5 Cara Mendidik Anak Berpikir Kritis Sejak Dini

anak berpikir kritis

Mendidik Anak Berpikir Kritis –  Sebagai orang tua, tentunya kita mau anak kita menjadi anak yang tidak hanya pintar, tapi juga cerdas. Kecerdasan pada anak sangatlah berpengaruh pada masa depannya kelak. Cerdas disini tidak hanya sebatas dalam bidang akademik, tapi juga emosional, spritual dan sosial.  Untuk itu, agar anak memiliki kecerdasan yang bagus, kita perlu memberikan stimulasi dan didikan yang mendukung kecerdasannya. Aku percaya, Setiap anak pasti dilahirkan dengan memiliki kecerdasan yang luar biasa, termasuk anak yang mengalami kelainan otak seperti anakku pun memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengoptimalkan kecerdasan yang tuhan beri pada anak kita.

Baca Juga : Inklusif Mengajarkan Toleransi pada Anak

Anak-anak yang dibiasakan untuk berpikir kritis dalam menerima informasi akan membuat rasa ingin tahunya semakin meningkat. Hal tersebut akan membuat otak anak akan semakin cepat dalam berpikir dan merespon sesuatu, Dengan berpikir kristis membuat otak anak bekerja lebih cepat dibandingkan jika anak hanya menerima informasi sepihak. Semakin sering otak anak distimulasi dengan cara berfikir kritis, maka akan semakin bagus pula perkembangan otaknya. Sinaps-sinaps saraf otaknya akan lebih mudah terkoneksi satu sama lain dan anak pun akan lebih cepat dalam merespon segala macam masalah yang dihadapinya.

Dengan terus mengasah kemampuan anak untuk berpikir keritis dalam berbagai hal yang dijumpainya setiap hari, kecerdasan anakpun akan semakin optimal. Setidaknya ada 5 hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berpikir kritis yaitu :

Mendengarkan Anak Berpendapat

“Benar atau salah orang tua itu kalau ngomong iyain aja, jangan dibantah.”

Aku sendiri dulu seringkali di dikte seperti itu oleh ibuku, setiap kali aku membahas apa yang disampaikan oleh ibuku. Dulu saat kecil aku tipe anak yang banyak tanya dan cerewet. Terkadang ketika ibuku memarahiku karena kelakuanku aku, sering kali aku melakukan pembelaan dengan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa aku melakukan hal tersebut. Ibuku selalu mengatakan kalimat diatas, menurutnya seorang anak itu wajib nurut aja apa kata orang tua, apakah itu benar atau salah iyain aja.

Pola asuh yang diajarkan ibuku padaku itu tidak sepenuhnya benar, karena hal tersebut akan membuatku menjadi orang yang susah untuk mengungkapkan pendapat. Dan syukurnya ketika mengasuh adik-adikku ibuku banyak belajar dan tidak lagi melakukan hal yang sama, sehingga sejak saatu itu pola asuh terhadap diriku dimasa sekolah pun menjadi lebih baik. Namun, pola asuh seperti diatas masih sering aku temukan sehari-harinya.

Menurutku wajar saja ibuku sempat melakukan hal tersebut dalam pola asuhku, hal tersebut karena pola asuh terhadap ibuku dimasa kecil yang seperti itu. Beruntungnya, ibuku cepat menyadari hal itulah yang membuatnya menjadi takut untuk berpendapat dan mengungkapkan apa yang dirasa sekalipun itu menyakitkan baginya. Selain itu aku memiliki papah yang membebaskanku dalam berpendapat, dan mengungkapkan apa yang ku rasa. Sehingga dulu saat balita hingga sekolah aku sekalu mengungkapkan semua pemikiranku ketika aku dimarahi ibuku, lalu papahku mengarahkanku perlahan hingga aku mengerti apa yang orang tuaku inginkan.

anak berpikir kritis

Memberikan Kesempatan Mengambil keputusan

Selayaknya kita orang dewasa, anak juga memiliki keinginan untuk ambil bagian dalam setiap momen kehidupannya sehari-hari. Walau sekecil apapun bagian yang dapat dia ambil yang terpenting dapat berpartisipasi. Salah satu cara melibatkan anak berpartisipasi dalam berbagai hal, adalah dengan memberikan nya kesempatan dalam mengambil keputusan.

Kita bisa mulai dengan hal-hal kecil, seperti memberikannya kesempatan untuk memilih satu diantara 2 hal yang sehari-hari dialaminya.

Misalnya, “Ade mau pakai baju yang mana, mau yang pink atau yang biru?”

Dengan terbiasa memilih sendiri apa yang diinginkan nya, anak akan dapat berpikir kritis tentang dirinya. Nantinya ketika dewasa hal tersebut diharapkan dapat membuatnya cepat tanggap dalam mengambil keputusan. Selain itu dia juga dapat benar-benar mengenali apa yang dirinya butuhkan dan inginkan. Kempuan mengambil keputusan ini sangat berpengaruh pada kecerdasan dan kemandirian anak.

Tingkatkan Rasa Ingin Tahu

Anak yang banyak bertanya tentang banyak hal dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, merupakan tanda otak anak yang berkembang dengan baik. Ketika anak berada pada usia golden age, otak anak akan berkembang secara pesat. Sehingga setiap apa yang dilihat dan didengarnya akan menjadi sebuah pertanyaan dalam otaknya. Sebisa mugkin sebagai orang tua memenuhi rasa ingin tahunya dengan menjawab berbagai pertanyaan yang ada diotaknya. Selain itu, kita juga dapat meningkatkan rasa ingin tahunya dengan melakukan stimulasi sesuai tahapan usianya.

Membangun Rasa Empati Anak

Selain tiga hal diatas, yang tak kalah penting dalam mendidik anak berpikir kritis adalah bagaimana caranya agar rasa empatinya terbangun dengan baik. Karena dengan rasa empati yang bagus maka anak dapat berfikir tentang perasaan orang lain dan dapat mengkritisi berbagai hal yang tidak baik dan dapat menyakiti orang lain. Selain itu dengan membangun rasa empati yang baik pada anak, akan membuatnya memiliki kecerdasan emosional yang bagus. Hal tersebut akan sangat bermanfaat untuk kehidupannya disaat dewasa.

Baca Juga : Pentingnya Inklusf Pada Anak Berkebutuhan Khusus

Orang Tua Harus Banyak Belajar.

Buat para ibu-ibu yang memiliki anak usia balita, pasti tau bagaimana rasanya kebingungan saat anak mengajukan banyak pertanyaan dalam berbagai hal. Mulai dari pertanyaan ringan seperti ini apa itu apa, hingga pertanyaan sulit tuhan itu siapa, tuhan itu dimana. Beberapa orang tua ada yang dapat menjawab pertanyaan anaknya dengan baik, adapula yang jawab asal-asalan. Bahkan ada yang memarahi anaknya saat banyak bertanya.

Seperti yang aku ceritakan diatas, kata ibuku saat kecil aku adalah anak yang sangat cerewet. Ketika aku melihat sesuatu aku selalu menanyakan tentangnya. Setiap kali aku bertanya, aku akan terus bertanya dengan rentetan panjang seperti iring-iringan parade. Tentu saja hal tersebut sering membuat ibuku kewalahan dalam menjawabnya.

Oleh karena itu, selain memberikan berbagai kegiatan stimulasi untuk mendidik anak berpikir kritis. Kita juga harus banyak belajar dan mencari banyak ilmu setiap harinya. Agar kita tidak kewalahan dalam menghadapi rasa ingin tahu anak yang semakin hari akan semakin besar.

Sumber Foto : Pixabay

 

Terimakasih Sudah Membaca.

See You

putri haneen dot com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top